Short Story

Supriyadi (40), petugas pemadam kebakaran honorer, mengalami kecelakaan saat hendak membantu pemadaman api. Sejak 2022, ia menjalani operasi demi operasi akibat patah tulang paha dan infeksi berat.

Kini, Pak Supriyadi harus berjuang sendirian menjalani pengobatan di Solo, sementara istri dan dua anaknya bertahan hidup di Berau tanpa penghasilan tetap. Anak sulungnya masih sekolah, anak bungsunya masih balita.

Bantu Pak Supriyadi Selamatkan Kakinya, Selamatkan Masa Depan Keluarganya

by Irmawati Bakas

  • Rp50.000.000

    Funding Goal
  • Rp0

    Funds Raised
  • 0

    Days to go
  • Target Goal

    Campaign End Method
Raised Percent :
0%
Minimum amount is Rp1000 Maximum amount is Rp1000 Put a valid number
Rp
Berau, Kalimantan Timur, Indonesia

Irmawati Bakas

2 Campaigns | 0 Loved campaigns

See full bio

Campaign Story

Supriyadi (40 tahun) adalah seorang kepala keluarga dan petugas pemadam kebakaran honorer di Berau, Kalimantan Timur. Selama ini ia dikenal sebagai sosok yang selalu siap membantu orang lain—bahkan ketika sedang tidak bertugas.

 Namun pada 13 Mei 2022, niat baik itu mengubah hidupnya selamanya.

Saat terjadi kebakaran, Pak Supriyadi menyusul ke lokasi untuk membantu pemadaman. Di perjalanan, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan patah tulang paha kiri. Sejak saat itu, ia memulai perjuangan panjang melawan rasa sakit, infeksi, dan ketidakpastian.

Ia telah menjalani berulang kali operasi, mulai dari pemasangan pen hingga pencangkokan tulang. Infeksi yang tak kunjung sembuh membuat tulangnya keropos dan rusak. Selama dua tahun, kakinya terus mengeluarkan cairan infeksi, nyeri hebat, dan harus dirawat hampir setiap hari.

Kini, Pak Supriyadi kembali dirujuk ke RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, Solo.
Ia menjalani pengobatan sendirian, jauh dari keluarga, menahan sakit sekaligus rindu.

Sementara itu, di Berau, istri dan kedua anaknya berjuang dengan cara mereka sendiri.

Sang istri, Isnawati (26 tahun), seorang ibu rumah tangga, harus mengurus kebutuhan hidup sehari-hari tanpa kehadiran suami. Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, ia berusaha bertahan demi anak-anaknya.

Anak sulung mereka, Khensin (16 tahun), masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Di usia remaja, ia harus belajar mandiri dan kuat, sambil menyimpan kecemasan akan kondisi ayahnya.
Anak bungsu mereka, Kinandari Embun Priyadi, yang baru berusia 2 tahun 3 bulan, tumbuh tanpa kehadiran ayah di sisinya.

Pak Supriyadi sendiri sudah dua tahun tidak bisa bekerja. Sebelum kecelakaan, ia menjadi tulang punggung keluarga dengan penghasilan sekitar 3 juta rupiah per bulan. Kini, ia hanya bisa berjuang di ruang perawatan, menahan nyeri dan berharap kakinya bisa diselamatkan.

Operasi lanjutan sangat mendesak harus dilakukan. Jika tidak, dokter menyampaikan risiko yang sangat berat: lumpuh permanen bahkan amputasi.

BPJS memang menanggung tindakan medis utama, namun keluarga ini tetap harus menanggung biaya operasional, perawatan luka rutin, kebutuhan hidup harian di Berau, serta biaya hidup Pak Supriyadi selama berobat di Solo—semuanya tanpa penghasilan tetap.

Pak Supriyadi telah berusaha mencari pekerjaan sampingan, namun kondisi fisiknya belum memungkinkan. Setiap hari masih ada luka yang harus dirawat, setiap malam masih ada rasa nyeri yang harus ditahan sendirian.

Di balik semua ini, ada satu harapan sederhana:
agar seorang ayah bisa kembali pulang dengan kaki yang utuh,
agar seorang suami bisa kembali memeluk keluarganya,
dan agar sebuah keluarga kecil bisa kembali menjalani hidup tanpa ketakutan kehilangan.

Mari kita bantu Pak Supriyadi melanjutkan pengobatan.
Karena di balik satu pasien yang berjuang sendirian, ada keluarga yang juga sedang berjuang untuk bertahan.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Bantu Pak Supriyadi Selamatkan Kakinya, Selamatkan Masa Depan Keluarganya”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *